Prosedur Pengelasan SMAW: mengatur parameter dan pelaksanaannya

Prosedur pengelasan SMAW merupakan suatu panduan langkah-langkah atau tahapan yang harus dilakukan pada saat melaksanakan pengelasan. Urutan pelaksanaan ini sebaiknya mengikuti kaidah yang sudah teruji sehingga kemungkinan kesalahan maupun cacat pengelasan (welding defect) dapat dihindari serta hasil pengelasan dapat optimal.

Sobat Mesin yang budiman… Kita akan melanjutkan pembahasan mengenai pengelasan SMAW. Artikel kali ini merupakan artikel ke-2 yang akan membahas mengenai prosedur pengelasan SMAW. Bagi Sobat Mesin yang belum membaca artikel ke-1 silahkan dapat membacanya pada link berikut: Pengertian pengelasan SMAW.

Pengaturan Parameter Pengelasan SMAW

Hal penting terkait prosedur pengelasan SMAW adalah mengatur parameter pengelasan. Apabila jenis material yang akan disambung sudah diketahui maka sebelum pengelasan dilakukan harus diperhatikan beberapa paramater pengelasan berikut ini :

  • Jenis dan diameter elektroda. Pemilihan jenis elektroda disesuaikan dengan bahan yang dilas, posisi pengelasan dan polaritas listriknya (lihat tabel di atas). Diameter elektroda sangat mempengaruhi besar kecilnya arus listrik yang akan digunakan. Hal tersebut berhubungan dengan laju peleburan atau laju penimbunan (fusion rate/deposition rate) dan kedalaman penetrasi (penetration).
  • Tegangan busur las. Tingginya tegangan busur tergantung pada jenis elektroda yang digunakan dan panjang busur yang diinginkan. Tegangan busur yang diperlukan berbanding lurus dengan panjang busur.

Parameter Pengelasan SMAW

  • Besar arus las. Besarnya arus listrik yang diperlukan tergantung dari bahan dan ukuran dari sambungan las, geometri sambungan, posisi pengelasan, jenis elektroda dan diameter inti elektroda. Besarnya arus listrik yang akan digunakan dapat pada spesifikasi elektroda yang sudah direkomendasikan oleh fabrikan pembuat elektroda. Penggunaan arus listrik yang tidak tepat (terlalu besar) dapat mengakibatkan hasil lasan yang tidak sempurna :
  1. Elektroda terlalu panas, dapat merusak kestabilan fluks
  2. Lebar cairan las terlalu besar
  3. Perlindungan cairan las tidak maksimal, dapat mengakibatkan logam lasan berpori (porosity)
  4. Besar kumungkinannya terjadi undercut
  5. Terak (slag) sukar dibersihkan Amper yang terlalu kecil dapat mengakibatkan
  6. Penyalaan busur sulit dan lenket-lengket
  7. Proses peleburan terputus-putus akibat dari busur yang tidak stabil.
  8. Peleburan base metal dan elektrode jelek dan terjadi slag inclusion
  • Kecepatan pengelasan. Kecepatan pengelasan adalah laju dari elektroda pada waktu proses pengelasan. Kecepatan pengelasan tergantung pada jenis elektroda, diameter inti elektroda, bahan yang dilas, geometri sambungan dan ketelitian sambungan serta tingkat ketrampilan weldernya.
  • Polaritas listrik. Pemilihan polaritas tergantung pada jenis bahan pembungkus elektroda, kapasitas panas sambungan. Bila titik cair bahan induk tinggi dan kapasitas panas besar sebaiknya digunakan polaritas lurus (elektrodanya dihubungkan dengan kutub negatif), sedangkan bila kapasitas panas kecil seperti pada plat tipis maka dianjurkan menggunakan polaritas balik  (elektrodanya dihubungkan dengan kutub positif)
  • Besarnya penembusan/penetrasi. Besarnya penembusan tergantung sifat fluks, polaritas, besar arus, kecepatan pengelasan dan tegangan busur. Semakin besar arus listrik maka akan semakin kuat daya tembusnya

Baca juga: Macam-macam pengelasan dan prinsip kerjanya

Persiapan Prosedur Pengelasan SMAW

Hal-hal yang harus dipersiapkan untuk melakukan proses pengelasan, khususnya dengan menggunakan proses las SMAW adalah sebagai berikut :

  • Menyiapkan benda kerja. Penyiapan material ini harus disesuaikan dengan WPS yang ditentukan, termasuk didalamnya adalah bentuk dan ukuran kampuh las. Permukaan material yang akan disambung dipastikan sudah bersih dari minyak dan kotoran lainnya agar memperoleh hasil lasan yang baik.
  • Menyediakan elektroda.Menyiapkan elektroda dengan jenis sesuai dengan material logam induk yang akan disambung. Diameter elektroda dipilih sesuai dengan bentuk dan ukuran kampuh yang digunakan, yang paling banyak digunakan adalah diameter 2,6 mm atau 3,2 mm. Untuk mendapatkan hasil sambungan las yang optimal, sebaiknya sebelum digunakan elektroda dipanaskan dalam oven dengan temperatur 75 oC – 100oC selama kurang lebih 1 (satu jam).
  • Mengatur mesin las. Memastikan semua sambungan kabel baik kabel power, kabel massa maupun kabel elektroda terkoneksi dengan baik dan kuat. Mengatur besarnya arus listrik sesuai dengan jenis dan diameter elektroda serta ketebalan material yang disambung (kedalaman penetrasi yang diinginkan).
  • Menyiapkan alat bantu dan alat keselamatan kerja. Alat bantu yang sekiranya akan diperlukan selama proses pengelasan sebaiknya dipersiapkan di dekat posisi welder. Welder juga harus menggunakan akan keselamatan kerja pengelasan minimal : pelindung mata & muka, appron (baju las), sarung tangan dan sepatu keamanan.

Teknik Penyalaan Busur Listrik

Posisi tubuh yang benar seperti ditunjukkan pada gambar di bawah juga menunjang kesempurnaan hasil pengelasan. Untuk itu perhatikan hal-hal berikut ini :

  • Tegakkan badan bagian atas dan buka posisi kaki anda
  • Pegang holder dan pertahankan siku-siku tangan anda pada posisi horizontal

Ada dua metode dasar yang dapat digunakan untuk memulai penyalaan busur yaitu metode menggores (striking) dan metode memukul (tapping). Penyalaan busur dimulai dengan dengan adanya hubungan pendek antara ujung elektroda dan permukaan benda kerja.

Prosedur Pengelasan SMAW

Metode striking elektroda disentuhkan ke permukaan benda kerja dengan menggores yang gerakannya mirip seperti penyalaan korek api. Begitu elektroda menyentuh permukaan benda kerja akan menghasilkan busur yang tidak stabil, oleh karena itu harus dijaga jarak antara ujung elektroda dan permukaan benda kerja sama dengan diameter elektroda yang dipakai.

Selanjutnya adalah metode mengetuk, elektroda ditempatkan pada posisi vertikal tegak lurus dengan permukaan benda kerja. Penyalaan busur dimulai dengan mengetuk atau melambungkannya di atas permukaan benda kerja, begitu elektroda menyentuh permukaan kerja akan menghasilkan busur yang tidak stabil, oleh karena itu harus dijaga jarak antara ujung elektroda dan permukaan benda kerja sama dengan diameter elektroda yang dipakai.

Baca juga: Gaji welder berdasarkan kualifikasinya